Informasi Penting untuk Umum

Filsafat Carvaka

DARSANA

FILSAFAT NASTIKA

“ALIRAN CARVAKA”

 

 

Sebutan Nama Tuhan dalam Filsafat Nastika di Aliran Carvaka

           

Secara etimologi kata Carvaka sendiri berasal dari kata ‘caru’ yang berarti manis dan ‘vak’ yang berarti ujaran, sehingga Carvaka berarti kata-kata yang manis. Carvaka mengajarkan tentang kenikmatan indrawi yang merupakan tujuan tertinggi hidup. Carvaka juga berarti seseorang yang materialis yang mempercayai manusia terbentuk dari materi, dan tidak mempercayai adanya Atman dan Tuhan. Pengetahuan yang valid hanya didapatkan dengan pratyaksa (persepsi), yaitu melalui kontak langsung dengan indriya. Alam hanya terbentuk oleh 4 bhuta elemen zat, yaitu : udara, api, air, dan tanah.

            Filsafat India aliran Carvaka ini digolongkan dalam aliran materialisme, karena mereka ini menganggap bahwa hanya apa yang bisa dilihat hanya itulah merupakan sumber pengetahuan yang paling dapat dipercaya. Mereka menyatakan bahwa semua apa yang tidak bisa dilihat atau apa yang di dapat hanya dengan mendengar perbandingan saja adalah sumber pengetahuan yang sering menyesatkan. Oleh karena itu tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Mereka hanya percaya kepada apa yang dilihat pada waktu dan tempat itu juga. Carvaka memandang bahwa hanya persepsi sajalah satu-satunya pramana atau sumber pengetahuan yang dapat dipercaya.

Otoritas Tuhan yang Dipuja aliran Carvaka

            Kaum Carvaka tidak pernah mengenal keberadaan Tuhan mereka menyatakan bahwa unsure-unsur material seperti uadara, api, air dan tanah telah memiliki sifat-sifat yang pasti (Svabhawa). Bahwa dengan sifat dan hukum-hukum pembawaannya sendiri mereka bergabung bersama untuk membentuk dunia ini. Tak diperlukan tangan Tuhan disini. Tak ada bukti bahwa obyek-obyek dunia ini merupakan hasil dari rencana apapun. Mereka dapat dijelaskan lebih rasional sebagai hasil secara kebetulan dari unsure-unsur tersebut. Jelas disini bahwa kaum Carvaka lebih condong pada atheisme. Mereka hanya percaya pada kenyataan positif atau fenomena yang dapat diamati saja.

 

Penemu Aliran atau Fisafat Carvaka

           

Filsafat Carvaka didirikan oleh Brhaspati yang ajarannya tertuang dalam Brhaspati Sutra. Pandangan ini didasarkan pada kenyataan-kenyataan berikut:

Beberapa buah puji-pujian Weda. Yang secara tradisi dilukiskan Brhaspati sebagai putra loka ditandai oleh semangat revolusi dan kebebasan berfikir.

Bahwa dalam kitab Mahabrata dan dimanapun juga pandangan materialistis dikatakan Brhaspati. Bahwa kira-kira selusin sutra dan seloka dikutip dan diambil sebagai refrensi oleh berbagai penyusun yang berbeda-beda sebagai ajaran materialistic dari Brhaspati. Sumber sastra aliran Carvaka adalah Brhaspati sutra, ada dijelaskan mengenai pembebasan. Dimana dalam pembebasan itu berarti pembebasan sepenuhnya dari segala penderitaan hanya berarti kematian (‘Maranam eva apavargah’- Brhaspati Sutra). Mereka yang mencoba untuk mencapai keadaan bebas dari kesenangan dan penderitaan dalam kehidupan ini dengan menekan keinginan yang dialami secara ketat dengan berfikir bahwa segala kesenangan yang muncul dari pemuasannya bercampur dengan penderitaan, telah bertindak seperti orang-orang tolol. Karena, tak seorang bijaksanapun akan menolak daging buah hanya karena ada kulit kerasnya.

Kita hendaknya jangan melepaskan kesempatan menikmati kehidupan ini, dan berharap dengan sia-sia akan menikmati kehidupan nantinya. ‘lebih baik seekor burung merpati sekarang ini ketimbang burunng merak besok paginya’. ‘sekeping uang receh yang pasti ada ditangan lebih baik ketimbang kepingan uang emas yang meragukan perolehannya’. ‘siapakah yang sedemikian bodoh mempercayakan pengelolaan uangnya ditangan orang lain’. (Kama Sutra bab 2). Karena itu tujuanmkehidupan manusia adalah untuk mencapai kesenangan sebanyak mungkin. Kehidupan yang baik adalah yang membawa pada keseimbanagan, kesenangan dan kegiatan yang buruk adalah yang memberikan penderitaan lebih banyak ketimbang kesenangannya. Oleh karenanya ini dapat disebut hedonism atau teori bahwa kesengan adalah tujuan tertinggi.

 

Inti Aliran atau Filsafat Carvaka

           

            Filsafat Carwaka yang merupakan reaksi atas otoritas Weda mengatakan tidak ada surga, tidak ada neraka, tidak ada Tuhan. Tidak ada reinkarnasi. Kita hanya memiliki satu kelahiran, yaitu saat ini. Dengan hanya menerima logika sebagai sumber pengetahuan, carwaka menolak kehadiran Tuhan. Tuhan dan Weda adalah imajinasi para pendeta, untuk menghaturkan sesaji, dan membuat orang-orang patuh dengan adanya hukuman bagi mereka yang tidak percaya. Filsafat Carwaka menolak otoritas Weda, kemudian mengungkap ketidak konsistenan ketika disatu kesempatan ajaran Weda mengajak umat menghindari kekerasan, tapi disisi lain mengorbankan binatang untuk mencapai kemulian.

Aliran Carvaka yang selalu menganggap kenikmatan indrawi yang merupakan tujuan tertinggi hidup. Carwaka juga berarti seorang materialis yang mempercayai manusia terbentuk dari materi, dan tidak mempercayai adanya atman dan Tuhan, membuat aliran Carvaka ini memiliki beberapa inti ajran atau otoritas aliran Carvaka yaitu:

 

1. Dunia Terbentuk Dari Empat Unsur

            Dengan menganggap sifat-sifat dari dunia material, kebanyakan para pemikir India lain berpendapat bahwa ia tersusun atas lima unsur (panca maha bhuta), yaitu: ether (akasa), udara (vayu), api (agni), air (apah) dan tanah (ksiti). Tetapi kaum carvaka menolak anggapan tersebut, karena unsur ether keberadaannya tidak dapat dirasakan. Mereka menganggap bahwa dunia material ini hanya tersusun atas empat unsur saja, yaitu : udara, api, air, dan tanah yang semuanya dapat dirasakan. Bukan hanya obyek-obyek material mati saja, tetapi organisme hidup seperti tumbuh-tumbuhan dan badan binatang, semuanya tersusun dari empat unsur yang berkombinasi sehingga mereka dapat hidup dan yang nantinya terurai kembali ketika mati.

 

2. Tak Ada Yang Namanya Jiva/Roh

Kaum Carvaka tidak percaya akan adanya roh/ jiwa, karena mereka tak melihat dan merasakan adanya roh/ jiwa. Jika seseorang menyatakan “saya gemuk”, “saya pincang”, “saya buta” dan sebagainya semuanya ini bertalian dengan badan yang terbuat dan terjadi dari material. Ketika ada pertanyaan mungkinkah kumpulan dari benda – benda materi itu menjelmakan sesuatu yang hidup? Mereka menjawab bahwa sifat-sifat tersebut aslinya tak ada pada setiap komponen, namun akan segera muncul apabila komponen-komponen tersebut menyatu. Umpamanya: daun sirih, kapur, gambir, pinang, tak satu pun dari padanya asalnya berwarna merah, namun secara bersama-sama mereka akan menghasilkan warna merah bila ditumbuk atau dikunyah jadi satu. Atau, benda yang sama pun dalam kondisi berbeda dapat menimbulkan sifat yang berbeda dengan aslinya. Umpamanya, gula tebu yang aslinya manis tak beralkohol akan menjadi beralkohol apabila ia dibiarkan berfermentasi. Berhubung adanya kemungkinan demikian, dengan cara yang sama kita dapat berpikir bahwa unsur-unsur material yang berkombinasi dalam cara khusus akan menimbulkan sesuatu benda hidup.

Karena ketidak percayaan mereka akan adanya roh/jiwa maka sudah sewajarnya mereka tidak percaya akan adanya kehidupan masa lalu, kehidupan nanti, kelahiran kembali, menikmati buah perbuatan di surga atau neraka semuanya tidak ada artinya sama sekali. Dan oleh karena itu pula mereka tidak berusaha untuk hidup secara baik, dan bermoral tinggi, karena mereka tidak percaya akan adanya phala (hukuman) setelah mereka mati. Bagi kaum Carvaka kematian dari badan adalah akhir dari segalanya.

 

3. Tak Ada Tuhan

            Tuhan yang keberadaannya  tak dapat dipersepsikan, tak jauh berbeda dengan keberadaan roh/jiva tadi. Kaum Carvaka menyatakan bahwa unsur-unsur material itu sendiri telah memiliki sifat-sifat yang pasti (svabhava). Bahwa dengan sifat dan hukum-hukum pembawaannya sendiri mereka bergabung bersama untuk membentuk dunia ini. Tak diperlukan tangan Tuhan disini. Tak ada bukti bahwa obyek-obyek dunia ini merupakan hasil dari rencana apapun. Mereka dapat dijelaskan lebih rasional sebagai hasil secara kebetulan dari unsur-unsur tersebut. Jelas disini bahwa kaum Carvaka lebih condong pada atheisme.

            Karena sejauh ini teori carvaka mencoba untuk menjelaskan dunia hanya dengan sifatnya saja, maka ia kadang-kadang disebut natularisme (svabhava-vada). Ia juga disebut mekanisme (yadrcch-vada), karena menolak keberadaan keperluan sadar dibalik dunia ini dan menjelaskannya sebagai kombinasi unsur-unsur secara kebetulan atau mekanikal saja. Teori Carvaka secara keseluruhan juga dapat disebut positifisme, karena ia hanya percaya pada kenyataan positif atau penomena yang dapat diamati saja.

 

Pandangan Macrokosmos dan Microkosmos Ajaran Carvaka

            Tuhan yang maha segalanya mengetahui perbedaan karakter, watak, tabiat dan kecerdasan setiap ciptaan-Nya. Oleh karena guna dan karmanya, ada orang yang dilahirkan dengan kondisi serba kekuarangan, lemah secara fisik dan mental serta bodoh secara spiritual dan material. Ada juga yang dilahirkan dengan kecerdasan ekstra, dengan mudah dapat mengerti semua kitab suci dan sadar akan adanya Tuhan dengan sendirinya. Ajaran Carvaka didalam pandangan Macrokosmos ini mereka hanya menggangap Veda adalah sebuah imajinasi seorang Pendeta. Jadi dalam ajaran Carvaka ini lebih menekankan bahwa Microkosmos itu tercipta dengan unsure-unsur material tanpa adanya campur tangan dari Sang Pencipta.

 

 Ajaran Etika dalam Ajaran Carvaka 

            Inti ajaran Hindu dikonsepkan kedalam “Tiga Kerangka Dasar” dan “Panca Sradha”. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari Tattwa (Filsafat) Susila (Etika) Upacara (Yadnya).        Ajaran Hindu kaya akan Tattwa atau dalam ilmu modern disebut filsafat , secara khusus filsafat disebut Darsana. Dalam perkembangan agama Hindu atau kebudayaan veda terdapat Sembilan cabang filsafat yang disebut Nawa Darsana. Pada masa Upanishad , akhirnya filsafat dalam kebudayaan veda dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu astika (kelompok yang mengakui veda sebagai ajaran tertinggi) dan nastika ( kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi ). Terdapat enam cabang filsafat yang mengakui veda yang disebut Sad Darsana (Saṁkhya, Yoga, Mimamsa, Nyaya, Vaisiseka, dan Vedanta ) dan tiga cabang filsafat yang menentang veda yaitu Jaina, Carvaka dan Budha (agama Budha).

            Secara harfiah susila diartikan sebagai etika . hal-hal yang tekandung yang dikelompokan kedalam susila memuat tata aturan kehidupan bermasyarakat yang pada intinya membahas perihal hukum agama. Mulai dari hukum dalam kehidupan sehari-sehari hingga hukum pidana ( Kantaka Sodhana ) dan hukum perdata ( Dharmasthiya ).

            Yang dimaksud upacara dalam agama Hindu adalah ritual keagamaan , sarana ritual keagamaan disebut Upakara , upakara di Bali disebut Banten. Upacara ini dapat dikelompok kedalam beberapa bentuk korban suci ( Yajna ) yang disebut Panca Yadnya ( Panca Maha Yadnya ). Ada banyak jenis panca Yadnya tergantung dari kitab mana uraian dari panca yadnya tersebut, artinya meskipun Panca Yadnya sama-sama terdiri dari lima jenis yadnya namun bagian-bagian yang disebutkan berbeda-beda masing – masing uraian kitab suci

Tujuan Akhir Aliran Carvaka

Beberapa aliran filsafat India umpama Mimamsa, percaya bahwa tujuan tertinggi dari manusia adalah mencapai sorga yaitu tempat yang serba sukha yang bisa dicapai dengan Upacara menurut ajaran Weda. Tetapi orang Carwaka menolak teori ini karena Mimamsa itu tidak bisa membuktikan adanya hidup sesudah mati. Surga dan Neraka itu hanyalah buatan para Pendeta untuk memaksa agar rakyat melakukan upacara – upacara. Pendapat Mimamsa itu tidak diakui kebenarannya oleh aliran – aliran filsafat lainnya; karena mereka percaya bahwa tujuan hidup tertinggi adalah Moksa yaitu mendapat tempat dimana semua penderitaan – penderitaan menjadi sirna (hilang). Tetapi golongan Carwaka menentang pendapat ini; karena Moksa berarti terlepasnya jiwa dari belenggu lingkaran lahir mati (incarnasi). Sedangkan Carwaka tidak percaya akan adanya jiwa itu sendiri. Sehingga tidak percaya juga akan adanya Moksa. Surga dan Neraka itu dicapai semasa hidup sekarang ini. Orang – orang Carwaka itu percaya bahwa badan manusia itu sudah terikat oleh perasaan senang ataupun sedih, tidak bisa dilepaskan lagi yang mengakibatkan bertemunya dengan Surga atau Neraka. Yang dapat diusahakan oleh manusia yaitu mempersedikit perasaan sedih/ sakit, karena menghabiskan sama sekali sedih/ sakit sama dengan kematian.

Mereka yang mengatakan bahwa Moksa itu bisa dicapai semasih hidup dengan jalan mematikan (menghabiskan) perasaan senang itu adalah manusia tolol. Carwaka percaya bahwa sedih dan senang itu tiada dapat dipisahkan. Tetapi adalah ketololan belaka bila kita membuang semua itu karena takut akan kesedihan. Mereka percaya bahwa hidup mereka adalah untuk hari ini belaka. Maka dengan demikian mereka mencemoohkan orang yang mau dengan harapan untuk mendapatkan kebahagiaan untuk hari depan. Mereka menyatakan lebih baik menjadi burung kecil sekarang daripada menjadi burung merak besok (itupun kalau ada penjelmaan hari esok). Menurut tanggapan Carwaka, tujuan hidup utama/ tujuan tertinggi dari hidup kita ini ialah: Kesenangan. Oleh karena itu, pendapat Carwaka ini di dunia barat dinamai Hedonisme (teori bahwa kesenangan adalah tujuan hidup tertinggi). Hal ini dengan sendirinya bertentangan dengan ideal hidup filsafat lainnya di India, yang percaya bahwa tujuan hidup manusia ada 4 macam:

1) Artha (membutuhkan harta kekayaan).

2) Kama (memenuhi keinginan – keinginan).

3) Dharma (melakukan tugas kebajikan).

4) Moksha (mencapai kebahagiaan yang kekal).

Menurut ini tujuan hidup kaum Carwaka hanyalah Kama belaka sedangkan artha hanya merupakan suatu alat untuk kama atau kekayaan hanyalah alat untuk mencapai kesenangan. Golongan kaum Carwaka ini ada dua yaitu:

1) Durta artinya licik/ tak terpelajar.

2) Susiksita artinya terpelajar.

Kedua – duanya menganggap bahwa kesenangan memang menjadi tujuan hidup, tetapi pengikut – pengikut Susiksita, Carwaka mencapai kesenangan itu dengan mempelajari kesenian – kesenian dan lain – lain sebagainya yang 64 macam cabangnya, salah seorang pengikut Susiksita Carwaka ini ialah Vatsyayana yang mengarang “Kama Sutra”, yaitu ilmu percintaan, yang mengajarkan di samping rasa dan tingkah laku cinta juga filsafat cinta.

Berbeda dengan Dhurta Carwaka yang menganggap bahwa Artha dan Dharma itu semata – mata untuk Kama. Vatsyayana mengajarkan bahwa ketiga tiganya itu harus berkembang dengan harmonis. Ia mengganggap bahwa kesenangan manusia tanpa seni adalah kesenangan ala binatang. Vatsyayana hidup dalam abad – 1 Masehi dan “Kama Sutra” – nya ialah kumpulan dari buku – buku dan tulisan – tulisan dari masa sebelumnya. Aliran filsafat Carvaka punah setelah tahun 1400. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan tertinggi dari aliran Carvaka  adalah mencapai kenikmatan yang sebenar-benarnya di dunia, dan menghindari penderitaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DARSANA

FILSAFAT NASTIKA

“ALIRAN CARVAKA”

 

 

Sebutan Nama Tuhan dalam Filsafat Nastika di Aliran Carvaka

           

Secara etimologi kata Carvaka sendiri berasal dari kata ‘caru’ yang berarti manis dan ‘vak’ yang berarti ujaran, sehingga Carvaka berarti kata-kata yang manis. Carvaka mengajarkan tentang kenikmatan indrawi yang merupakan tujuan tertinggi hidup. Carvaka juga berarti seseorang yang materialis yang mempercayai manusia terbentuk dari materi, dan tidak mempercayai adanya Atman dan Tuhan. Pengetahuan yang valid hanya didapatkan dengan pratyaksa (persepsi), yaitu melalui kontak langsung dengan indriya. Alam hanya terbentuk oleh 4 bhuta elemen zat, yaitu : udara, api, air, dan tanah.

            Filsafat India aliran Carvaka ini digolongkan dalam aliran materialisme, karena mereka ini menganggap bahwa hanya apa yang bisa dilihat hanya itulah merupakan sumber pengetahuan yang paling dapat dipercaya. Mereka menyatakan bahwa semua apa yang tidak bisa dilihat atau apa yang di dapat hanya dengan mendengar perbandingan saja adalah sumber pengetahuan yang sering menyesatkan. Oleh karena itu tidak bisa dipercaya sepenuhnya. Mereka hanya percaya kepada apa yang dilihat pada waktu dan tempat itu juga. Carvaka memandang bahwa hanya persepsi sajalah satu-satunya pramana atau sumber pengetahuan yang dapat dipercaya.

Otoritas Tuhan yang Dipuja aliran Carvaka

            Kaum Carvaka tidak pernah mengenal keberadaan Tuhan mereka menyatakan bahwa unsure-unsur material seperti uadara, api, air dan tanah telah memiliki sifat-sifat yang pasti (Svabhawa). Bahwa dengan sifat dan hukum-hukum pembawaannya sendiri mereka bergabung bersama untuk membentuk dunia ini. Tak diperlukan tangan Tuhan disini. Tak ada bukti bahwa obyek-obyek dunia ini merupakan hasil dari rencana apapun. Mereka dapat dijelaskan lebih rasional sebagai hasil secara kebetulan dari unsure-unsur tersebut. Jelas disini bahwa kaum Carvaka lebih condong pada atheisme. Mereka hanya percaya pada kenyataan positif atau fenomena yang dapat diamati saja.

 

 

Penemu Aliran atau Fisafat Carvaka

           

Filsafat Carvaka didirikan oleh Brhaspati yang ajarannya tertuang dalam Brhaspati Sutra. Pandangan ini didasarkan pada kenyataan-kenyataan berikut:

Beberapa buah puji-pujian Weda. Yang secara tradisi dilukiskan Brhaspati sebagai putra loka ditandai oleh semangat revolusi dan kebebasan berfikir.

Bahwa dalam kitab Mahabrata dan dimanapun juga pandangan materialistis dikatakan Brhaspati. Bahwa kira-kira selusin sutra dan seloka dikutip dan diambil sebagai refrensi oleh berbagai penyusun yang berbeda-beda sebagai ajaran materialistic dari Brhaspati. Sumber sastra aliran Carvaka adalah Brhaspati sutra, ada dijelaskan mengenai pembebasan. Dimana dalam pembebasan itu berarti pembebasan sepenuhnya dari segala penderitaan hanya berarti kematian (‘Maranam eva apavargah’- Brhaspati Sutra). Mereka yang mencoba untuk mencapai keadaan bebas dari kesenangan dan penderitaan dalam kehidupan ini dengan menekan keinginan yang dialami secara ketat dengan berfikir bahwa segala kesenangan yang muncul dari pemuasannya bercampur dengan penderitaan, telah bertindak seperti orang-orang tolol. Karena, tak seorang bijaksanapun akan menolak daging buah hanya karena ada kulit kerasnya.

Kita hendaknya jangan melepaskan kesempatan menikmati kehidupan ini, dan berharap dengan sia-sia akan menikmati kehidupan nantinya. ‘lebih baik seekor burung merpati sekarang ini ketimbang burunng merak besok paginya’. ‘sekeping uang receh yang pasti ada ditangan lebih baik ketimbang kepingan uang emas yang meragukan perolehannya’. ‘siapakah yang sedemikian bodoh mempercayakan pengelolaan uangnya ditangan orang lain’. (Kama Sutra bab 2). Karena itu tujuanmkehidupan manusia adalah untuk mencapai kesenangan sebanyak mungkin. Kehidupan yang baik adalah yang membawa pada keseimbanagan, kesenangan dan kegiatan yang buruk adalah yang memberikan penderitaan lebih banyak ketimbang kesenangannya. Oleh karenanya ini dapat disebut hedonism atau teori bahwa kesengan adalah tujuan tertinggi.

 

Inti Aliran atau Filsafat Carvaka

           

            Filsafat Carwaka yang merupakan reaksi atas otoritas Weda mengatakan tidak ada surga, tidak ada neraka, tidak ada Tuhan. Tidak ada reinkarnasi. Kita hanya memiliki satu kelahiran, yaitu saat ini. Dengan hanya menerima logika sebagai sumber pengetahuan, carwaka menolak kehadiran Tuhan. Tuhan dan Weda adalah imajinasi para pendeta, untuk menghaturkan sesaji, dan membuat orang-orang patuh dengan adanya hukuman bagi mereka yang tidak percaya. Filsafat Carwaka menolak otoritas Weda, kemudian mengungkap ketidak konsistenan ketika disatu kesempatan ajaran Weda mengajak umat menghindari kekerasan, tapi disisi lain mengorbankan binatang untuk mencapai kemulian.

Aliran Carvaka yang selalu menganggap kenikmatan indrawi yang merupakan tujuan tertinggi hidup. Carwaka juga berarti seorang materialis yang mempercayai manusia terbentuk dari materi, dan tidak mempercayai adanya atman dan Tuhan, membuat aliran Carvaka ini memiliki beberapa inti ajran atau otoritas aliran Carvaka yaitu:

 

1. Dunia Terbentuk Dari Empat Unsur

            Dengan menganggap sifat-sifat dari dunia material, kebanyakan para pemikir India lain berpendapat bahwa ia tersusun atas lima unsur (panca maha bhuta), yaitu: ether (akasa), udara (vayu), api (agni), air (apah) dan tanah (ksiti). Tetapi kaum carvaka menolak anggapan tersebut, karena unsur ether keberadaannya tidak dapat dirasakan. Mereka menganggap bahwa dunia material ini hanya tersusun atas empat unsur saja, yaitu : udara, api, air, dan tanah yang semuanya dapat dirasakan. Bukan hanya obyek-obyek material mati saja, tetapi organisme hidup seperti tumbuh-tumbuhan dan badan binatang, semuanya tersusun dari empat unsur yang berkombinasi sehingga mereka dapat hidup dan yang nantinya terurai kembali ketika mati.

 

2. Tak Ada Yang Namanya Jiva/Roh

Kaum Carvaka tidak percaya akan adanya roh/ jiwa, karena mereka tak melihat dan merasakan adanya roh/ jiwa. Jika seseorang menyatakan “saya gemuk”, “saya pincang”, “saya buta” dan sebagainya semuanya ini bertalian dengan badan yang terbuat dan terjadi dari material. Ketika ada pertanyaan mungkinkah kumpulan dari benda – benda materi itu menjelmakan sesuatu yang hidup? Mereka menjawab bahwa sifat-sifat tersebut aslinya tak ada pada setiap komponen, namun akan segera muncul apabila komponen-komponen tersebut menyatu. Umpamanya: daun sirih, kapur, gambir, pinang, tak satu pun dari padanya asalnya berwarna merah, namun secara bersama-sama mereka akan menghasilkan warna merah bila ditumbuk atau dikunyah jadi satu. Atau, benda yang sama pun dalam kondisi berbeda dapat menimbulkan sifat yang berbeda dengan aslinya. Umpamanya, gula tebu yang aslinya manis tak beralkohol akan menjadi beralkohol apabila ia dibiarkan berfermentasi. Berhubung adanya kemungkinan demikian, dengan cara yang sama kita dapat berpikir bahwa unsur-unsur material yang berkombinasi dalam cara khusus akan menimbulkan sesuatu benda hidup.

Karena ketidak percayaan mereka akan adanya roh/jiwa maka sudah sewajarnya mereka tidak percaya akan adanya kehidupan masa lalu, kehidupan nanti, kelahiran kembali, menikmati buah perbuatan di surga atau neraka semuanya tidak ada artinya sama sekali. Dan oleh karena itu pula mereka tidak berusaha untuk hidup secara baik, dan bermoral tinggi, karena mereka tidak percaya akan adanya phala (hukuman) setelah mereka mati. Bagi kaum Carvaka kematian dari badan adalah akhir dari segalanya.

 

3. Tak Ada Tuhan

            Tuhan yang keberadaannya  tak dapat dipersepsikan, tak jauh berbeda dengan keberadaan roh/jiva tadi. Kaum Carvaka menyatakan bahwa unsur-unsur material itu sendiri telah memiliki sifat-sifat yang pasti (svabhava). Bahwa dengan sifat dan hukum-hukum pembawaannya sendiri mereka bergabung bersama untuk membentuk dunia ini. Tak diperlukan tangan Tuhan disini. Tak ada bukti bahwa obyek-obyek dunia ini merupakan hasil dari rencana apapun. Mereka dapat dijelaskan lebih rasional sebagai hasil secara kebetulan dari unsur-unsur tersebut. Jelas disini bahwa kaum Carvaka lebih condong pada atheisme.

            Karena sejauh ini teori carvaka mencoba untuk menjelaskan dunia hanya dengan sifatnya saja, maka ia kadang-kadang disebut natularisme (svabhava-vada). Ia juga disebut mekanisme (yadrcch-vada), karena menolak keberadaan keperluan sadar dibalik dunia ini dan menjelaskannya sebagai kombinasi unsur-unsur secara kebetulan atau mekanikal saja. Teori Carvaka secara keseluruhan juga dapat disebut positifisme, karena ia hanya percaya pada kenyataan positif atau penomena yang dapat diamati saja.

 

Pandangan Macrokosmos dan Microkosmos Ajaran Carvaka

            Tuhan yang maha segalanya mengetahui perbedaan karakter, watak, tabiat dan kecerdasan setiap ciptaan-Nya. Oleh karena guna dan karmanya, ada orang yang dilahirkan dengan kondisi serba kekuarangan, lemah secara fisik dan mental serta bodoh secara spiritual dan material. Ada juga yang dilahirkan dengan kecerdasan ekstra, dengan mudah dapat mengerti semua kitab suci dan sadar akan adanya Tuhan dengan sendirinya. Ajaran Carvaka didalam pandangan Macrokosmos ini mereka hanya menggangap Veda adalah sebuah imajinasi seorang Pendeta. Jadi dalam ajaran Carvaka ini lebih menekankan bahwa Microkosmos itu tercipta dengan unsure-unsur material tanpa adanya campur tangan dari Sang Pencipta.

 

 Ajaran Etika dalam Ajaran Carvaka 

            Inti ajaran Hindu dikonsepkan kedalam “Tiga Kerangka Dasar” dan “Panca Sradha”. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari Tattwa (Filsafat) Susila (Etika) Upacara (Yadnya).        Ajaran Hindu kaya akan Tattwa atau dalam ilmu modern disebut filsafat , secara khusus filsafat disebut Darsana. Dalam perkembangan agama Hindu atau kebudayaan veda terdapat Sembilan cabang filsafat yang disebut Nawa Darsana. Pada masa Upanishad , akhirnya filsafat dalam kebudayaan veda dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu astika (kelompok yang mengakui veda sebagai ajaran tertinggi) dan nastika ( kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi ). Terdapat enam cabang filsafat yang mengakui veda yang disebut Sad Darsana (Saṁkhya, Yoga, Mimamsa, Nyaya, Vaisiseka, dan Vedanta ) dan tiga cabang filsafat yang menentang veda yaitu Jaina, Carvaka dan Budha (agama Budha).

            Secara harfiah susila diartikan sebagai etika . hal-hal yang tekandung yang dikelompokan kedalam susila memuat tata aturan kehidupan bermasyarakat yang pada intinya membahas perihal hukum agama. Mulai dari hukum dalam kehidupan sehari-sehari hingga hukum pidana ( Kantaka Sodhana ) dan hukum perdata ( Dharmasthiya ).

            Yang dimaksud upacara dalam agama Hindu adalah ritual keagamaan , sarana ritual keagamaan disebut Upakara , upakara di Bali disebut Banten. Upacara ini dapat dikelompok kedalam beberapa bentuk korban suci ( Yajna ) yang disebut Panca Yadnya ( Panca Maha Yadnya ). Ada banyak jenis panca Yadnya tergantung dari kitab mana uraian dari panca yadnya tersebut, artinya meskipun Panca Yadnya sama-sama terdiri dari lima jenis yadnya namun bagian-bagian yang disebutkan berbeda-beda masing – masing uraian kitab suci

Tujuan Akhir Aliran Carvaka

Beberapa aliran filsafat India umpama Mimamsa, percaya bahwa tujuan tertinggi dari manusia adalah mencapai sorga yaitu tempat yang serba sukha yang bisa dicapai dengan Upacara menurut ajaran Weda. Tetapi orang Carwaka menolak teori ini karena Mimamsa itu tidak bisa membuktikan adanya hidup sesudah mati. Surga dan Neraka itu hanyalah buatan para Pendeta untuk memaksa agar rakyat melakukan upacara – upacara. Pendapat Mimamsa itu tidak diakui kebenarannya oleh aliran – aliran filsafat lainnya; karena mereka percaya bahwa tujuan hidup tertinggi adalah Moksa yaitu mendapat tempat dimana semua penderitaan – penderitaan menjadi sirna (hilang). Tetapi golongan Carwaka menentang pendapat ini; karena Moksa berarti terlepasnya jiwa dari belenggu lingkaran lahir mati (incarnasi). Sedangkan Carwaka tidak percaya akan adanya jiwa itu sendiri. Sehingga tidak percaya juga akan adanya Moksa. Surga dan Neraka itu dicapai semasa hidup sekarang ini. Orang – orang Carwaka itu percaya bahwa badan manusia itu sudah terikat oleh perasaan senang ataupun sedih, tidak bisa dilepaskan lagi yang mengakibatkan bertemunya dengan Surga atau Neraka. Yang dapat diusahakan oleh manusia yaitu mempersedikit perasaan sedih/ sakit, karena menghabiskan sama sekali sedih/ sakit sama dengan kematian.

Mereka yang mengatakan bahwa Moksa itu bisa dicapai semasih hidup dengan jalan mematikan (menghabiskan) perasaan senang itu adalah manusia tolol. Carwaka percaya bahwa sedih dan senang itu tiada dapat dipisahkan. Tetapi adalah ketololan belaka bila kita membuang semua itu karena takut akan kesedihan. Mereka percaya bahwa hidup mereka adalah untuk hari ini belaka. Maka dengan demikian mereka mencemoohkan orang yang mau dengan harapan untuk mendapatkan kebahagiaan untuk hari depan. Mereka menyatakan lebih baik menjadi burung kecil sekarang daripada menjadi burung merak besok (itupun kalau ada penjelmaan hari esok). Menurut tanggapan Carwaka, tujuan hidup utama/ tujuan tertinggi dari hidup kita ini ialah: Kesenangan. Oleh karena itu, pendapat Carwaka ini di dunia barat dinamai Hedonisme (teori bahwa kesenangan adalah tujuan hidup tertinggi). Hal ini dengan sendirinya bertentangan dengan ideal hidup filsafat lainnya di India, yang percaya bahwa tujuan hidup manusia ada 4 macam:

1) Artha (membutuhkan harta kekayaan).

2) Kama (memenuhi keinginan – keinginan).

3) Dharma (melakukan tugas kebajikan).

4) Moksha (mencapai kebahagiaan yang kekal).

Menurut ini tujuan hidup kaum Carwaka hanyalah Kama belaka sedangkan artha hanya merupakan suatu alat untuk kama atau kekayaan hanyalah alat untuk mencapai kesenangan. Golongan kaum Carwaka ini ada dua yaitu:

1) Durta artinya licik/ tak terpelajar.

2) Susiksita artinya terpelajar.

Kedua – duanya menganggap bahwa kesenangan memang menjadi tujuan hidup, tetapi pengikut – pengikut Susiksita, Carwaka mencapai kesenangan itu dengan mempelajari kesenian – kesenian dan lain – lain sebagainya yang 64 macam cabangnya, salah seorang pengikut Susiksita Carwaka ini ialah Vatsyayana yang mengarang “Kama Sutra”, yaitu ilmu percintaan, yang mengajarkan di samping rasa dan tingkah laku cinta juga filsafat cinta.

Berbeda dengan Dhurta Carwaka yang menganggap bahwa Artha dan Dharma itu semata – mata untuk Kama. Vatsyayana mengajarkan bahwa ketiga tiganya itu harus berkembang dengan harmonis. Ia mengganggap bahwa kesenangan manusia tanpa seni adalah kesenangan ala binatang. Vatsyayana hidup dalam abad – 1 Masehi dan “Kama Sutra” – nya ialah kumpulan dari buku – buku dan tulisan – tulisan dari masa sebelumnya. Aliran filsafat Carvaka punah setelah tahun 1400. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan tertinggi dari aliran Carvaka  adalah mencapai kenikmatan yang sebenar-benarnya di dunia, dan menghindari penderitaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments on: "Filsafat Carvaka" (1)

  1. tulisan ini sangat membantu saya dalam memahami aliran filsafat hindu yang lebih luas, pang sing mulo keto.oke

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: