Informasi Penting untuk Umum

Artikel ” Pawivahan “

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1Pengertian

Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan hidup Grhasta Asrama. Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut “Yatha sakti Kayika Dharma” yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang khususnya Umat Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.

1.2 Latar Belakang

Wiwaha dalam masyarakat Hindu memiliki kedudukan yang sangat penting. Dalam Catur Asrama, wiwaha termasuk kedalam  Grehastha Asrama. Di samping itu dalam agama Hindu, wiwaha di pandang sebagai sesuatu yang maha mulia, seperti ynag di jelaskan dalam Manawadharmasastra bahwa wiwaha itu bersifat sakral yang hukumnya wajib, dalam artia harus dilakukan oleh seseorang yang normal sebagai suatu  kewajiban dalam hidupnya.

1.3 Rumusan Masalah

  1. Sarana upacara apa saja yang di gunakan dalam parosesi       pavivahan ?
  2. Apakah makna dan tujuan dari sebuah perkawinan?
  3. Bagaiman prosesi perkawinan di suatu daerah (Banyuning   khususnya)?

1.4 Nama jenis upacara : Manusa Yajna ( Pavivahan )

            

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sarana yang di gunakan dalam prosesi upacara Pavivahan

Sarana yang di gunakan dalam prosesi upacara Pavivahan khususnya di Desa Banyuning antara lain sebagai berikut  :

  1. Sanggah Surya

Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. Sanggah Surya merupakan niyasa (simbol) stana Sang Hyang Widhi Wasa, dalam hal ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih.

Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Jaya, sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan simbol pengantin pria.

Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Sang Hyang Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih, dewa kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.

  1. Tikeh Dadakan (tikar kecil)

Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual, tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni).

  1. Keris
    Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon pengantin pria. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria.
  2. Benang Putih

Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap setinggi 30 cm.

Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil dari cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut.

Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta Asrama.

  1. Tegen – tegenan

Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung jawab sekala dan niskala.
Perangkat tegen-tegenan :
– batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap seperti hal tebu ruas demi ruas, secara manis.
– Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja, berkarma berdasarkan Dharma
– Periuk simbol windhu
– Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi)
– Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.

  1. Suwun-suwunan (sarana jinjingan)

Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita, yang berisi talas, kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau istri mengmbangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang menjadi besar.

  1. Dagang-dagangan
    Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi dagang.
  2. Sapu lidi (3 lebih)

Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna, berdasarkan ucapan baik, prilaku yang baik dan pikiran yang baik, disamping itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan rumah tangga.

  1. Sambuk Kupakan (serabut kelapa)

Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek, kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian.

Telor bebek simbol manik. Mempelai saling tendang serabut kelapa (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah itu secara simbolis diduduki oleh pengantin wanita. Apabila mengalami perselisihan agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri, agar kekuatan triguna dapat terkendali. Selesai upacara serabut kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.

  1. Tetimpug

Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.

 Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan diri (mandi) hal itu disebut dengan “angelus wimoha” yang berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari perkawinan ini bisa lahir anak yang suputra.Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Terakhir diadakan upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita.

2.2  Makna pawiwahan  dan tujuan pavivahan ( Vivaha )

Kita ketahui bahwa pawiwahan ( Vivaha ) dalam masyarakat Hindu  ada empat jenjang atau tahap kehidupan  yang di sebut dengan catur asrama yaitu tahap pertama adalah belajar atau menuntut ilmu atau Brahmacari. Tahap kedua Grahatha yaitu berumah tangga. Tahap ke tiga Wanaprasta yaitu mulai melepaskan diri dari ikatan duniawi,dan tahap ke empat Biksuka atau Sanyasin yaitu menyebarkan ilmu kerohanian kepada umat, dan dirinya sepenuhnya di abdikan kepada Tuhan. Vivaha atau perkawinan pada masyarakat Hindu memiliki arti dan kedudukan khusus dan penting sebagai awal dari massa berumah tangga atau Grahastha Asrama.

Wiwaha atau perkawina ini tidak boleh dilakukan karena terpaksa atau paksaan bahkan pengaruh orang lain. Hal ini di lakukan  untuk menghindari terjadinya ketegangan setelah menjadi Grehastha Asrama. Keberhasilan dalam wiwaha atu perkawinan di antaranya adalah saling mencinta,bekerjasama,saling mengisi dan saling bahu-membahu dalam kegiatan berumah tangga. Terbentuknya keluarga bahagia dan kekal haruslah di sertai adanya keseimbangan hak dan kewajiban, dimana hak dan kewajiban serta kedudukan suami dan istri harus seimbang dan sama meskipun sewadharmanya berbeda dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Seseorang yang belum melakukan pawiwahan maka belum dikatakan mempunyai hubungan suami istri. Karena dijaman sekarang ini mungkin biasa dikatakan jaman kali yuga dimana pikiran yang kuranng baik sangat besar mempengaruhi pikiran manusia. Banyak pasangan remaja melakukan hubungan suami istri tanpa didahului prosesi pawiwahan ini. Di desa Banyuning kita mengetahui  beberapa jenis perkawinan diantaranya :

  •  Melaku (meminang)
  •  Merangkat (kawin lari)
  •  Nyeburin (nyentana)
  •  Mlegandang (kawin paksa)

Ini merupakan salah satu proses pawiwahan yang sering di lakukan oleh  masyarakat Desa Pakraman Banyuning. Prosesi ini di sebut dengan Melaku atau Meminang.

Tetapi cara perkawinan nyeburin dan mlegandang sudah hampr tidak ada. Yang kami bahas disini adalah prosesi pawiwahan melaku (meminang)

Prosesi atau tata cara Pawiwahan di Desa Banyuning

  •   Tata cara atau prosesi pawiwahan( Vivaha)  yang terdapat di Desa Banyuning.

Seperti biasa, sebelum seseorang melakukan pawiwahan atau Vivaha biasanya seorang wanita dan seorang laki-laki akan menjalin suatu hubungan yang biasa kita kenal dengan istilah pacaran atau masa-masa dalam proses pendekatan. Setelah itu apabila kedua pasangan sudah saling suka sama suka,saling percaya, mengerti,dan mungkin mereka sudah yakin dengan hubungnnya, sehingga pada akhirnya kedua pasangan ini memutuskan akan melangsungkan proses pawiwahan ( Vivaha ) atas persetujuan dan restu dari kedua pasang  calon mempelai.

Dalam suatu perkawinan, perkawinan di anggap sah apabila ada saksi. Dalam upacara vivaha ( Byakala ) tersebut sudah terkandung Tri Upasaksi ( Tiga saksi , yaitu Dewa saksi, Manusa saksi, dan Butha saksi. Dewa saksi adalah saksi dewa ( Ida Sang Hyang Widi Wasa ) yang di mohon untuk menyaksikan upacara pawiwahan tersebut. Manusa saksi adalah saksi manusia, dalam hal ini semua orang yang hadir pada saat di laksanakan upacara utamanya seperti pemangku dan perangkat desa( Bendesa adat, kelian dinas, parisada) dan sebagainya. Butha saksi adalah saksi para butha kala.

Di Desa Banyuning proses pawiwahan yang di lakukan oleh sepasang wanita dan laki- laki mempunyai tata cara tersendiri diantaranya :

1)      Telah terjadi hubungan cinta sama cinta antara seorang lelaki dan seorang wanita dan telah ada perjanjian diantara mereka untuk melangsungkan perkawinan.

2)      Melakukan pejantos, yaitu keluarga laki-laki mengutus beberapa orang utusan untuk dating kerumah keluargaperempuan dengan tujuan untuk menyampaikan kepada keluarga perempuan bahwa keluarga calon mempelai laki-laki akan datang, kerumah keluargaperempuan dengan tujuan untuk menyampaikan kepada keluarga perempuan bahwa keluarga calon mempelai laki-laki akan datang, kerumah keluarga perempuan pada saat yang telah ditentukan, dengan maksud meminang anak gadisnya yang telah menjalin hubungan cinta dengan seorang anggota keluarganya untuk dijadikan istrinya.

3)      Meminang ( ngidih ) yaitu keluarga laki-laki bersama dengan calon mempelai laki-laki beserta kerabatnya datang kerumah kelurga perempuan dengan tujuan meminang anak gadisnya untuk dinikahkan.

4)      Penyambutan kedua mempelai : penyambutan mempelai sebelum memasuki pintu halaman rumah adalah symbol untuk melenyapkan uinsur-unsur negative yang mungkin di bawa oleh ke dua mempelai agar tidak mengganggu jalannya upacara.

5)      Upacara Pebeya kalaan yaitu setelah tiba kembali dirumah calon mempelai        laki-laki, kedua calon mempelai disambut dengan upacara yang disebut dengan Upacara Beya Kala, dan setelah menjalani upacara tersebut maka keduanya berstatus mempelai/pengantin.

6)      Mapejati atau pesaksian merupakan upacara kesaksian tentang pengesahan perkawinan  kehadapan Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa, juga kepada masyarakat , dan seperangkat desa,bahwa keduanya telah meningkatkan diri sebagai suami istri yang sah.

7)      Upacara Bebas yaitu keluarga laki-laki bersama dengan kedua mempelai dan biasanya disertai pula oleh saudara-saudara dan kerabatnya, kembali datang kerumah keluarga mempelai perempuan dengan tujuan melepaskan status kekerabatan mempelai wanita dari keluarganya dan menyampaikan bahwa anak gadisnya telah membentuk keluarga baru.

Biasanya upacara ini ditandai dengan sarana upacara yang dilengkapi dengan Bantal Alem. Pada upacara bebas ini sering juga dirangkai dengan upacara nunas/mepamit yang dilaksanakan dimerajan atau sanggah dari keluarga mempeli wanita.

8)      Upacara Widiwidana (natab) adalah peresmian dari kedua mempelai pada status suami istri yang sah melalui upacara yang dipuput oleh sulinggih atau jero mangku yang disaksikan pula oleh keluarga perempuan yang memang diundang hadir pada saat itu. Pada upacara ini sering pula mengundang para prajuru atau petugas, baik dari petugas dinas maupun petugas adat untuk menyaksikan jalannya upacara dan sekaligus mengukuhkan atau mengesahkan perkawinan kedua mempelai oleh kelian desa pakraman dan dilanjutkan dengan memberi nasehat kepada kedua mempelai didalam mengurangi kehidupan berkeluarga.

  • Tujuan  Vivaha

Bagi masyarakat Hindu soal perkawinan,mempunyai arti dan kedudukan yang khusus dalam dunia kehidupa mereka. Istilah perkawinan sebagaiman terdapat di dalam berbagai sastra dan kitab hukum Hindu ( Smerti ), di kenal dengan nama Vivaha.  Dalam kitab Manusmrti  perkawinan bersifat religious  karena di kaitkan dengan kewajiban seseorang untuk mempunyai keturunan dan untuk menebus dosa- dosa orang tua dengan jalan melahirkan soeorang putra. Vivaha dalam agama Hindu di pandang sebagai sesuatu yang amat mulia.

Tujuan utama dari Vivaha adalah untuk memperoleh keturunan ( sentana ) terutama yang suputra,yaitu anak yang hormat kepada orang tua,cinta kasih terhadap sesama, dan berbakti kepada Tuhan. Suputra sebenarnya berarti anak yang mulia dan mampu menyebrangkan orang tuanya dari neraka ke sorga. Seorang suputra dengan sikapnya yang mulia mampu mengangkat derajat dan martabat orang tuanya. Dalam hidup berumah tangga ada beberapa kewajiban yang di laksanakan yaitu :

  •   Melanjutkan keturunan
  •  Membina rumah tangga
  •   Bermasyarakat
  •   Melaksanakan Panca yajna

Sehingga adapun syarat-syarat dari vivaha tersebut diantaranya :

  •   Perkawinan di katakan sah apabila di lakukan menurut ketentuan hukum Hindu.
  •   Untuk mengesahkan perkawinan menurut hukum Hindu harus di lakukan oleh pendeta atau kerohaniawan atau pejabat agama yang memenuhi syarat untuk melakukan perbuatan itu.
  •   Suatu perkawinan di katakana sah apabila kedua calon mempelai telah menganut agama Hindu.
  •   Berdasarkan tradisi yang ada di Bali ( Khususnya di Banyuning , perkawinan di anggap sah setelah melaksanakan upacara beyakala/ beyakaonan sebagai rangkaian upacara wiwaha.

BAB III

 PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa vivaha dalam masyarakat hindu memiliki kedudukan dan arti yang sangat penting. Dalam ajaran Catur Asrama,vivaha termasuk dalam Grahasta.

Berdasarkan definisi tersebut maka dapat dikatakan bahwa perkawinan mempunyai hubungan yang erat dengan lembaga-lembaga,dimana perkawinan tersebut baru bisa kikatakan sah bila telah melaksanakan upacara agama (berdasarkan ketuhanan yang maha esa). Vivaha dalam agama hindu dipandang sebagai sesuatu yang amat mulia,seperti yang telah dijelaskan dalam kitab Manawa Dharmasastra bahwa vivaha tersebut bersifat sakral yang hukumnya bersifat waiib,dalam artian harus dilakukan oleh seseorang yang normal sebagai suatu kewajiban hidupnya. Bagi umat hindu melakukan upacara vivaha harus berpedoman dan mengikuti syarat-syarat yang telah ditentukan dalam hukum hindu.

3.2 Saran

Sebaiknya kita sebagai Muda Hindu, perlu memahami makna dan sakralnya suatu prosesi pavivahan tersebut. Sebelum terlambat marilah kita sebagai  Kader Muda Hindu menyakini hal-hal dalam sakramen dan prosesi pavivahan tersebut.

Comments on: "Artikel ” Pawivahan “" (1)

  1. wirantini ni made said:

    is the best my friend,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: